bisnis dan dunia pendidikan
Jaman sekarang ini yang katanya memang sudah edyan ini, bagi sebagian orang kalangan #elit (baca:ekonomi sulit) untuk mendapatkan pendidikan yang layak sepertinya gampang-gampang susah. Kalau kata engkong sebelah semua tergantung dari amal dan perbuatan. Begitukah..? .Terkadang ada yang berbaik hati menyekolahkan mereka bagi yang tak mampu, ada juga yang karena tak mampu tapi mereka berprestasi mereka bisa mendapatkan keringanan atau bea siswa. Seperti kata engkong juga semua tergantung amala dan perbuatan #haha.
Terlepas dari semua itu, Lalu bagaimana dengan mereka yang sudah tak mampu, dan terpaksa menjadi benar-benar bodoh karena kemiskinan mereka. Mereka terpaksa menghabisskan waktu dan masa kecil mereka mengais rejeki di pinggiran-pinggiran dan keramaian kota dan hampir tak ada waktu untuk mereka sekedar belajar membaca atau menulis. Memang sudah banyak yang tergerak untuk membuat mereka mendaapatkan pendidikan. Tapi karena besarnya jumlah mereka tentunya perlu di butuhkan orang yang lebih juga yang memperhatikan mereka. Saya yakin mereka juga nggak mau miskin, Mereka juga nggak mau bodoh. Kalau pun di tanya “biarin aja bodoh” Kalau itu jawaban mereka. Saya yakin itu dari emosi mereka yang mungkin hatinya terbekukan keadaan, bukan dari hati nurani mereka.
Dunia pendidikan di eNdonesia ini sudah menjadi dunia bisnis baru yang menggiurkan. Bagaimana tidak, banyak orang tergiur menjadi guru PNS karena katanya gaji guru sekarang gedhe. Walaupun masih banyak juga guru honorer yang secara ikhlas di bayar seadanya yang mengajar dengan penuh keikhlasan. Saya sih cuman berharap bagi para guru yang mendapatkan upah yang lumayan besar, seharusnya diimbangi dengan tanggung jawab mereka terhadap anak didik mereka yang juga besar. Terkadang saya menemukan ada beberapa kasus yang nyatanya guru sangatlah cuek dengan perkembangan anak didiknya.
Kembali ke topik, Beberapa waktu yang lalu saat saya mencari sekolah buat anak saya dari beberapa sekolahan yang saya kunjungi sungguh sangat terihat sekali pemetaan yang memperlihatkan sekolah orang kaya dan sekolah orang miskin. Dan dari wawancara sepintas yang saya akukan dengan istri di beberapa sekolahan itu sebenarnya sekolahan mahal juga ada yang justru kualitas pendidikan dan gurunya tidak lebih baik dari sekolah biasa sekelas madrasah kampungan. Justru dari sekolah madrasah tingkat kampungan yang saya kunjungi beberapa waktu lalu itu, terlihat bagai mana keikhasan para guru mengajar. Lain halnya dengan para guru di sekolahan mahal yang sepertinya terkadang diskriminatif terhadap anak yang mengkin terlihat kurang mampu. Ironis.
Dari situlah kami menyimpulkan bahwa dunia pendidikan menjadi dunia bisnis utuk saat ini. Dan point yang kami dapat adalah, untuk mendapatkan pendidikan yang bagus dan baik bagi anak ternyata tak harus di sekolahan mahal. Yang terpenting adalah kualitas guru dan kenyamanan sang anak dalam belajar. Dan yang terpenting adalah perhatian orang tua sendiri terhadap perkembangan sang anak dalam belajar. Hal itulah yang terbesar memberikan kontribusi terhadap perkembangan sang anak. Sekarang hitung saja, berapa waktu yang di habiskan anak antara di sekolahan dan di rumah. Tentunya seharusnya lebih banyak di rumah. Maka jangan salahkan sekolah jika anak bodoh.